Looking back: Quarter-Life Crisis
This is a note that I wrote a couple years ago. I just recover it from the cloud.
MONDAY, SEPTEMBER 22, 2008
Quarter-Life Crisis
Ini istilah tiba-tiba aja jadi sangat relevan buat kehidupan gue yang memang kurang lebih ada di kategori waktu tersebut.
Mungkin secara kasar (kira-kira, karena gue juga belom menjalaninya sampai step terakhir. mungkin 50 tahun kedepan, gua bisa update post ini), gua bisa membagi periode kehidupan ini menjadi beberapa garis penting:
1. Kelahiran – Graduation
2. Early working life
3. Quarter-life crisis
4. Marriage life
5. Middle-life crisis
6. KematianDi dalah tahap pertama dari periode tersebut, tentu ga banyak pilihan yang bisa kita ambil. I can call it the ‘simple’ life. You just have to follow.
Dengan berlanjutnya kehidupan, waktu bisa membawa kita ke berbagai tempat yang ga kita pikirkan sebelumnya. Misalnya masalah pekerjaan, pasangan hidup, kepercayaan, etc. But then the question is, is this what you want? If life is so short, what don’t you do what you really want to do?
Lentera Jiwa
oleh NugieLama sudah kumencari
apa yang hendak kulakukan
sgala titik kujelajahi
tiada satupun kumengertitersesatkah aku disamudra hidupku
kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna
bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tahu jawabnya
inikah jalanku inikah takdirkureff:
kubiarkan kumengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
kupercaya dan kuyakini murninya nurani
menjadi penunjuk jalanku lentera jiwaku
Basically it’s about finding your path in this world. It’s about where you want to go, what you want to do, and so on. And now, looking back at the past, have I found what I was looking for? The answer is: I don’t know. I don’t even remember what I was looking for.
I think it comes with age, that people stop questioning about life and choose to start living it instead. Instead of trying so hard to figure out what’s going to happen in the future, we start living our life. Our present. Our gift. Our life.

No trackbacks yet.